Ahli Ekonomi Ungkap Penyebab Berhentinya Pertumbuhan Ekonomi Sebesar 5%

Ahli Ekonomi Ungkap Penyebab Berhentinya Pertumbuhan Ekonomi Sebesar 5%

enda2013.org – Ekonomi dari Universitas Indonesia fithra Faisal hastiadi mengatakan bahwa pemerintah dalam 5 tahun ini kurang memberi stimulus kepada pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengakibatkan terjadinya berhentinya pergerakan pertumbuhan ekonomi di posisi 5%, dan berhentinya pertumbuhan ini menjadi topik yang cukup diminati untuk diteliti penyebabnya.

Dia mengungkapkan bahwa berdasar pada penelitian empiris, indonesia harusnya mampu mengalami pertumbuhan ekonomi minimal 6% sepanjang tahun 2015 hingga tahun 2017. Namun fakta hasilnya berbeda, tingkat pertumbuhan yang dihasilkan hanya berada di antara 4 sampai dengan 5% saja.

“Dengan adanya hal ini, itu berarti bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan di bawah angka yang seharusnya menjadi potensinya. Hal ini bisa terjadi karena adanya nya, pemerintah Indonesia pun bisa tumbuh 5%,” kata Fithra faisal hastiadi, Rabu (10/4/2019).

Fithra menilai bahwa kebijakan ekonomi pemerintah Indonesia selama ini cenderung ke arah yang salah. Menurutnya, ada tiga kebijakan yang mengindikasikan bahwa arah yang dipilih merupakan arah yang salah.

Yang pertama adalah, adanya kebijakan pemerintah yang menimbulkan crowding out effect atau aksi berebut dana antara pemerintah dengan korporasi dalam penghimpunan data. Kecenderungan ini mengakibatkan ketidakseimbangan, pasarnya sektor swasta sering tidak kebagian karena pemerintah menguasai setidaknya 85% dari total obligasi yang ada di pasar.

Tahun ini saja, sri Mulyani Indrawati Menteri Keuangan mematok target penerbitan surat berharga negara atau SBN suhu sebesar Rp 825,7 triliun, dan dari penerbitan itu hanya mengalami penurunan sebesar 3,59% saja. Tentu target tersebut sangat jauh dari APBN 2018, di mana saat itu target APBN mencapai Rp 856,49 triliun.

“Hal ini mengakibatkan sektor swasta Mengalami penurunan sumber dananya, sehingga sektor swasta yang harusnya menjadi agen di sektor riil tidak mampu melakukan ekspansi bisnis. Itulah hal yang menjadi hambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia sehingga tidak bisa lebih dari 5%,’ ungkap Fithra.

Yang kedua adalah, pemerintah menunda pengeluaran insentif fiskal yang memberikan dampak langsung kepada besarnya konsumsi, misalnya potongan pajak atau tax cut. Adanya pelonggaran fiskal yang selama ini diperlakukan pihak pemerintah dinilai kurang memberikan dampak secara langsung kepada konsumsi.

Baca juga : Antisipasi Penurunan Ekonomi Global, Perkuat Pasar Domestik

Kemudian yang ketiga adalah pemerintah dianggap baik terhadap investasi industri manufaktur, selain itu pemerintah juga apa pada sumber daya manusia karena terlalu fokus di bagian pembangunan infrastruktur. Sangat disayangkan bila pertumbuhan infrastruktur saat ini kurang memberikan dampak terhadap pertumbuhan industri.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang hanya sebesar 5,04%, ini terjadi pada Kuartal 3 tahun 2018 secara tahunan. Sedangkan di tahun itu pula pertumbuhan industri manufaktur mikro dan kecil mengalami peningkatan sebesar 3,88%.

Adanya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terhenti ini menyebabkan Indonesia Tertinggal dibanding negara di Asia Tenggara lain, di mana rata-rata negara Asia Tenggara mengalami pertumbuhan sebesar 6%.

 

Author: admin